Minggu, 06 Maret 2016

Tenun Sarung Merupakan Budaya Orang Lamaholot

Dahulu para perempuan dewasa Lamahot harus mampu menenun atau neket tene. Ketrampilan itu membuktikan seorang perempuan benar-benar mencintai ibunda yang telah melahirkan dan membesarkannya. Tapi kini para tetua kesal karena perempuan muda di sana menghayati tenun secara berbeda. Karena semua perempuan menenun kain tenun tradisionil pun cukup untuk memenuhi kebutuhan semua ritual tradisionil yang mesti mereka jalani. Namun kondisi sekarang amat berbeda. Cara berpikir warga sudah berbeda. Tak semua perempuan sudi menenun meski mereka tetap cinta ibundanya.

Pembuatan kain sarung tenun Ikat dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi.
Pekerjaan ini dapat berlangsung selama berminggu-¬minggu, bahkan kadang-kadang sampai
berbulan-bulan. Seringkali pencelupan dikerjakan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung,meskipun kadang-kadang juga dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung. Ketika kerajaan-kerajaan kecil di Flores masih ada, sejumlah orang bekerja khusus sebagai pembuat kain-kain tenun untuk kebutuhan kalangan raja-raja di istana. Jika dahulu ada pembedaan pakaian adat berdasarkan status sosial (golongan bangsawan atau rakyat jelata), maka masa sekarang tidak lagi. Sekarang kain-kain tenun dibuat untuk dijual ke pasaran lalu dijual lagi kepada mereka yang membutuhkannya. Pesanan dengan kualitas khusus masih dilayani dengan harga khusus pula Pekerjaan ini dapat berlangsung selama berminggu-¬minggu, bahkan kadang-kadang sampai berbulan-bulan. Seringkali pencelupan dikerjakan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung,meskipun kadang-kadang juga dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung. Ketika kerajaan-kerajaan kecil di Flores masih ada, sejumlah orang bekerja khusus sebagai pembuat kain-kain tenun untuk kebutuhan kalangan raja-raja di istana. Jika dahulu ada pembedaan pakaian adat berdasarkan status sosial (golongan bangsawan atau rakyat jelata), maka masa sekarang tidak lagi. Sekarang kain-kain tenun dibuat untuk dijual ke pasaran lalu dijual lagi'

Daerah di Flores bagian timur yang terkenal dengan kain tenun ikatnya adalah Lembata. Di daerah ini, khususnya daerah Lamalera menurut Ruth Barnes dalam tulisannya The Bridewealth Cloth of Lamalera Lembata, disebutkan bahwa hanya kain sarung untuk wanita yang memakai motif ikat yang disebut mofa. Kain sarung wanita itu sendiri disebut kewatek. Kain sarung untuk laki-laki tidak memakai motif ikat. (Kain sarung untuk wanita berfungsi sebagai pemberian dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki dalam upacara perkawinan).

Ada dua jenis tenunan kain sarung ikat Lembata salah satunya adalah nowing dan mowak.
Nowing adalah busana pria. Proses pembuatan sarung jenis ini terbilang mudah karena merupakan paduan warna benang. Nowing, bagi pria Ile Ape di dominasi warna hitam dengan sedikit perpaduan warna biri, kuninng dan merah, sementara untuk pria Atdei biasanya didominasi warna merah, sementara untuk kecamatan Wulandoni berwarna putih dengan paduan warna hijau dan merah hati ayam.

Mowak adalah motif bergambar yang terdapat pada kain tenun orang lamaholot. Biasanya, mowak mengambil bentuk binatang laut atau tanaman tertentu. Perempuan Ile Ape dalam menenun mengenal lima jenis mowak, masing-masing mowak kabu lepaken, mowak ara limanen, mowak belaonen atau belawanen, dan mowak kukun puhununen.
“Lima jenis mowak itu dipadu dalam selambar kain tenunan. Setiap motif memiliki keunikan sendiri-sendiri, tetapi sebagai penenun harus mampu memadu sedemikian rupa supaya terlihat indah. Mowak itu gambaran dari ikan, ada juga bentuk daun dan bunga,” jelas Yustina Jari Nihamaking, penenun yang beralamat di Wangatoa, kelurahan Selandoro, Kabupaten Lembata.

Untuk menjadi selembar sarung siap pakai, proses yang memakan waktu hingga berbulan-bulan bahkan untuk jenis kain tertentu bisa memakan waktu 1 tahun.
Kendati dewasa ini, penenun dimudahkan dengan hadirnya beragam jenis warna benang. Namun menenun sejatinya dimulai dari proses pemilihan kapas, pemisahan kapas dari biji, pemintalan kapas menjadi benang (tue lelu), perwarnaan, pembuatan motif (bowa mowak), dan bagian terakhir adalah tane tenane (menenun). Biasanya, benang motif berwarna putih agar mudah dilakukan pewarnaan sesuai keinginan sang pengrajin.
Dalam mewarnai benang, pengrajin tenun ikat tradisional masih menggunakan pewarna tradisional yang didapatkan dari alam. Misalnya dengan menggunakan beberapa jenis tumbuhan, seperti akar mengkudu (untuk warna merah), daun nila (warna hitam), pohon hepang, kunyit.

Kain sarung yang tenunannya terdiri atas dua bagian kain yang digabungkan. Kewatek nai telo adalah kain yang paling tinggi nilainya. Kain ini terdiri atas tiga bagian yang disambungkan menjadi satu sarung.
Kain Sarung Tenun Lembata mempunyai ciri khas dengan dua atau tiga sambungan. Kain ini dipergunakan
sebagai mas kawin dalam upacara perkawinan dari pihak keluarga perempuan, dan dipertukarkan dengan gelang-gelang dari gading gajah yang sangat berharga yang diberikan oleh keluarga pihak laki-laki. Semua jenis mas kawin ini merupakan warisan yang diberikan turun-temurun.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar